< Kembali

Daily Investment Summary 22 September 2021

22 September 2021



Global - Indeks saham global masih bergerak variatif pada perdagangan Selasa (21/09) yang salah satunya terdampak pada krisis likuiditas yang menimpa Evergrande, yang menjadi developer property terbesar di Cina. Kekhawatiran bahwa krisis likuditas perusahaan tersebut dapat berdampak ke sistem perbankan dan keuangan di Cina dan global. Hal ini mendorong investor seluruh dunia untuk menjauhi saham dan berlari ke aset yang lebih aman seperti obligasi.  Selain dari Cina, pengumuman kebijakan tapering The Fed pada Rabu waktu setempat, sehingga investor cenderung wait-and-see. Merespon, yield obligasi AS tenor 10 tahun cenderung bergerak turun dikisaran 1,31% karena banyaknya investor yang beralih pada asset safe haven ditengah volatilitas saham dalam skala global.
 
Asia - Nikkei terkoreksi 2,17% sedangkan Hangseng rebound 0,51% setelah jatuh pada sehari sebelumya. Sementara itu, bursa Korea dan Cina daratan tutup mengingat adanya hari libur nasional.  Saat ini investor tengah menanti respon Beijing apakah akan memberikan bailout atau restrukturisasi untuk perusahaan tersebut, atau dibiarkan bangkrut. Evergrande tidak bisa melunsi obligasi off-shore, adapun total utangnya mencapai USD300 miliar. Dengan utang sebesar itu, dikhawatirkan akan mengguncang sektor finansial Cina yang juga berkontribusi besar terhadap global. Dengan rasio kepemilikan property mencapai 90%, dan jutaan investor retail yang memesan apartemen, sehingga juga akan berdampak terhadap perekonomian Cina. Di sisi lain, aktivitas sektor property Cina juga berkontribusi 30% terhadap PDB Cina.
 
Indonesia - Mengikuti sentiment global, IHSG melanjutkan penurunan 0,26% dengan Rupiah cenderung menguat pada Rp14.206 per dolar AS. Namun, asing bertahan pada posisi SELL senilai Rp232,24 miliar dengan saham-saham yang menjadi sasaran net SELL antara lain BBRI, BBCA, EXCL, dan ADRO. IHSG masih terpengaruh sentiment global dari krisis likuiditas perusahaan property Evergrande dan juga investor yang masih menanti keputusan The Fed mengenai timeline dari kebijakan tapering. Di sisi lain, dari domestic, Bank Indonesia juga mengadakan RDG minggu ini, yang diprediksi masih akan menahan suku bunga di 3,5% paling tidak hingga pada akhir tahun, atau bisa jadi bertepatan dengan tapering tahun depan maka suku bunga 7DRRR baru dinaikkan.
 





Source: berbagai sumber diolah kembali

Download: PDF