< Kembali

Daily Investment Summary 25 November 2021

25 November 2021




Global - Indeks saham global masih variatif pada perdagangan Rabu (24/11), setelah Wall Street kembali mixed setelah imbal hasil obligasi tenor 10 tahun AS naik cukup signifikan dalam dua hari terakhir sesaat setelah Presiden AS Joe Biden menominasikan Jerome Powell untuk melanjutkan jabatannya sebagai gubernur The Fed dan Lael Brainard sebagai wakil. Pasar menilai karakteristik Powell yang moderat dibandingkan Brainard yang cenderung dovish. Dengan karakternya, Powell dapat menaikkan suku bunga lebih cepat dibandingkan proyeksi. Selain dari nominasi Powell, indeks harga konsumen AS pada Oktober 0,9% MoM dibandingkan dengan CPI pada September 0,4% MoM dan proyeksi bulanan yakni 0,6%.Sehingga, secara tahunan, CPI menjadi 6,2% YoY, atau jauh dibandingkan dengan ekspektasi sekitaran 2,0% YoY. Angka inflasi AS telah menyentuh 31 tahun terakhir. Sementara itu, gelombang inflasi telah terjadi di beberapa negara maju seperti AS, dan Eropa juga Cina karena kenaikan harga energy. Adapun, harga minyak dunia kembali rebound setelah tiga hari koreksi dengan WTI berada pada di sekitar USD78 dan Brent berada pada USD82 per barrel, kendati AS telah menyerukan negara consumer minyak lain seperti Cina, Jepang, India dan Korea Selatan untuk melepaskan cadangan minyaknya dengan terkoordinasi untuk menurunkan harga, setelah negara OPEC+ menolak untuk menaikkan produksi minyaknya. Jepang tengah memproses pelepasan cadangan minyak tersebut
 
Indonesia - IHSG cenderung flattsih dengan Rupiah cenderung stabil pada Rp14.219 per dolar AS. Asing melanjutkan aksi NET BUY mencapai Rp419,20 miliar dengan saham-saham yang menjadi sasaran antara lain YULE, JSMR, BBNI dan DMMX. Kami menilai pergerakkan IHSG yang cenderung konstan karena kurangnya sentiment positif dari dalam negeri dan faktor eksternal yang tidak terlalu baik. Dari eksternal, kekahwatiran inflasi tinggi, imbal hasil AS yang meningkat dan kenaikkan kasus covid-19 di Eropa, yang membawa kewaspadaan bagi pemerintah. Di sisi lain, secara seasonal, pasar cenderung lebih lesu pada November sebelum naik signifikan pada Desember bertepatan dengan window dressing.
 




Source: berbagai sumber diolah kembali

Download: PDF