< Kembali

Daily Investment Summary 26 November 2021

26 November 2021

 



Global - Saham-saham global masih mixed pada perdagangan Kamis (25/11) setelah Wall Street lagi-lagi ditutup variatif. Kekhawatiran pasar tersebut tercermin dari pergerakkan imbal hasil obligasi AS dengan tenor 10 tahun berada pada 1,65% dibandingkan pada minggu lalu yang berada pada kisaran 1,5%. Kenaikan imbal hasil tersebut merefleksikan proyeksi pasar akan adanya kenaikan suku bunga lebih cepat. Ditengah kekhwatiran inflasi, perusahaan ritel juga melaporkan performa yang dibawah ekspektasi kendati menjelang musim libur karena naiknya biaya tenaga kerja. Adapun, data ekonomi AS seperti pesanan barang tahan lama (duration goods order) justru menurun pada Oktober 2021. Tetapi, angka core PCE yang menggambarkan perubahan harga di tingkat konsume untuk barang dan jasa naik 4,1% YoY, sesuai ekspektasi pasar. Di lain pihak, klaim pengangguran AS berada di titik terendah dalam 50 tahun terakhir dan berkurang 199.000 pada minggu lalu. Sedangkan, pemerintah merevisi perhitungan PDB AS menjadi 2,1% YoY pada 3Q21. Sementara itu, Eropa tengah menghadapi apa yang dikatakan sebagai gelombang keempat pandemic. Setelah Viena dan Rotterdam, Jerman bahkan mempertimbangkan untuk menerapkan lockdown total. Dengan kemunculan kasus baru di Eropa, membawa pemulihan ekonomi menjadi tak pasti. Sehingga, bursa Eropa tentative melemah.
 
Asia - Nikkei 225 rebound 0,67%. Sedangkan, Shanghai terkoreksi 0,24%. Hangseng naik 0,22%. Pergerakkan indeks global masih disetir oleh sentiment ketakutan adanya inflasi yang lebih lama dan tinggi dibandingkan proyeksi.
 
Indonesia - IHSG rebound 0,24% dengan Rupiah cenderung turun pada Rp14.263 per dolar AS. Asing membalik dari NET BUY menjadi NET SELL mencapai Rp48,24 miliar di seluruh pasar, walaupun secara regular masih NET BUY dengan saham-saham yang menjadi sasaran antara lain TLKM, BMRI, KLBF dan ASSA. Sentimen global masih menjadi penentu arah IHSG yang cenderung sideways seminggu terakhir. Namun, kami mencatat bahwa tren NET BUY pada pasar regular tersebut juga dipengaruhi oleh optimism investor mengenai prospek ekonomi Indonesia yang menarik, angka kasus covid-19 yang terkendali dan juga iinflasi yang terkendali. Indonesia termasuk negara yang menikmati kenaikan harga komoditas, sehingga neraca dagang dapat dipertahankan dalam posisi surplus dan rupiah yang cenderung stabil terhadap dolar AS.
 




Source: berbagai sumber diolah kembali

Download: PDF