< Kembali

Daily Investment Summary 29 Juni 2020

29 June 2020



Global - Bursa global bergerak cenderung mixed dalam seminggu terakhir yang diakhiri Jumat (26/06). Pergerakkan bursa akibat adanya tarik menarik sentimen global. Pasar masih mengkhawatirkan akan datangnya gelombang kedua dari covid-19 di sejumlah Negara yang sebelumnya dianggap telah berhasil mengalahkan pandemic. Di Jerman, angka replikasi virus bahkan menyentuh 2,7 yang artinya penyebaran virus yang lebih massive dibandingkan angka benchmark 1,0 yang menyiaratkan terkendali, setelah penularan yang terjadi di salah satu distrik di Negara bagian North Rhine-Westphalia, Jerman dari sebuah pasar daging. Demikian juga di AS di Negara bagian California dan Florida dimana penularan berada dalam tingkat tertinggi. Meski demikian, Direktur NIAID Dr. Anthony Fauci menyebutkan bahwa kemungkinan lockdown total sudah tidak ladi diperlukan. Hal ini membawa sedikit kelegaan dari pasar. Di sisi lain, WHO mengatakan angka infeksi global telah menyentuh 9 juta terutama bersumber dari kenaikan Negara- negara di Amerika Latin. Untuk kasus Brazil, terutama, Negara tersebut bahkan tidak menggunakan kebijakan social dan physical distancing dari awal akibat adanya penolakan dari presiden Jair Bolsonaro. IMF juga meramalkan hampir seluruh Negara akan mendapatkan pertumbuhan negative sepanjang tahun ini.
 
Asia - Di Cina, pemerintah Beijing harus menutup beberapa kompleks perumahan akibat adanya kluster penularan baru dari pasar Xinfadi. Pemerintah Cina kemudian melakukan tes secara massive pada ratusan ribu orang lainnya yang mengunjungi pasar.  Sementara itu, Donald Trump juga mengatakan bahwa perjanjian dangan dengan Cina masih berlaku, kendati kedua Negara bersitegang dengan berbagai isu. Namun, IMF kembali merevisi pertumbuhan global menjadi kontraksi 4,9% YoY pada 2020 dibandingkan proyeksi sebelumnya -3% YoY.
 
Indonesia - IHSG juga bergerak mixed dan berada di zona negative, kendati Rupiah bergerak cenderung stabil selama minggu ini. Adapun, net sell asing sepanjang minggu mencapai Rp1 triliun. Minggu ini, sentimen IHSG disetir oleh pemerintah mengakui scenario akan adanya resesi jika pada 3Q20 nanti, ekonomi Indonesia bergerak terkontraksi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat tumbuh sekitar 1,4% untuk batas atas jika terjadi lonjakan konsumsi masyarakat seiring penerapan New Normal dan kontraksi 1,6% YoY pada batas bawah. Sementara itu, untuk 2Q20, pemerintah telah memproyeksikan pertumbuhan minus 3,8% YoY akibat penerapan PSBB.
 




Source: berbagai sumber diolah kembali

Download: PDF