Eskalasi militer AS-Israel terhadap Iran memicu lonjakan harga minyak mentah dan logam mulia di pasar global. Penutupan Selat Hormuz memperparah risiko gangguan pasokan energi dunia, sementara investor beralih ke aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik yang tinggi.
Ditulis berdasarkan analisis dan ditinjau oleh : Iswardi Lingga, CSA, CRP, CTAD
Harga Minyak Naik Tiga Hari Berturut-turut
Harga minyak mentah melanjutkan reli kenaikan untuk hari ketiga berturut-turut pada Selasa (3/3), didorong oleh eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang kian memanas sejak akhir Februari. West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan kembali di area $75 per barel pada sesi sore, setelah sempat bergerak dalam kisaran lebar $71–$75 sepanjang hari.
Tekanan kenaikan harga minyak bermula sejak Sabtu (28/2), ketika AS dan Israel meluncurkan serangan militer terkoordinasi terhadap berbagai lokasi di Iran—termasuk tiga situs nuklir utama. Serangan tersebut, yang oleh pihak AS diberi kode sandi Operation Epic Fury dan oleh Israel disebut Operation Roaring Lion, menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei beserta sejumlah pejabat militer tinggi.
Iran merespons dengan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah serta menyerang tiga tanker minyak berbendera AS dan Inggris pada Minggu (1/3). Pasar global bereaksi dengan penurunan tajam pada pembukaan perdagangan Senin (2/3), dengan IHSG ditutup melemah 2,66% ke level 8.016 poin, sementara Wall Street berakhir variatif: Dow Jones -0,15%, S&P 500 +0,04%, dan Nasdaq -0,10%.
Selat Hormuz Ditutup: 20% Pasokan Minyak Dunia Terancam
Senin (2/3) menjadi titik kritis di pasar energi ketika Iran secara resmi menutup Selat Hormuz dan memperingatkan seluruh kapal agar tidak melewati jalur pelayaran vital tersebut. Langkah Iran itu langsung memaksa sebagian besar pemilik tanker, perusahaan minyak besar, dan perusahaan perdagangan komoditas menghentikan pengiriman melalui selat tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur pengiriman minyak tersibuk di dunia. Sekitar 20 juta barel minyak per hari—setara dengan 20% dari total konsumsi minyak global—melewati jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab ini. Gangguan terhadap rute ini berimplikasi langsung pada rantai pasokan energi global, khususnya bagi negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor minyak dari kawasan Teluk.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak akibat konflik ini turut mendorong sentimen positif pada saham-saham sektor energi. Perusahaan minyak dan gas mencatat kenaikan harga saham seiring lonjakan harga minyak mentah, begitu pula kontraktor pertahanan yang mendapat dorongan dari eskalasi konflik. Sebaliknya, sektor penerbangan dan pariwisata, perbankan, teknologi, serta konsumer diskresioner berada di bawah tekanan akibat sentimen risk-off yang melanda.
Proyeksi: WTI Berpotensi Sentuh $100–$150 Jika Konflik Berlanjut
Selama konflik masih terkendali dan tidak meluas lebih jauh, harga minyak WTI diperkirakan masih akan menguat menuju kisaran $80–$85 per barel. Namun apabila gangguan pasokan berlangsung berkepanjangan—terutama jika penutupan Selat Hormuz tidak segera teratasi—harga minyak berpotensi melonjak drastis ke rentang $100–$150 per barel.
Volatilitas di pasar keuangan global diperkirakan tetap tinggi selama konflik diperkirakan berlanjut hingga April 2026. Indeks saham berjangka AS pada awal sesi menunjukkan tekanan lanjutan: S&P 500 Futures -0,2%, Nasdaq Futures -0,3%, dan Dow Futures -351 poin. Di kawasan Asia, Hang Seng turun 2,1% dan Nikkei melemah 1,4%, sementara IHSG pada akhir perdagangan 3 Maret berada di level 7.955 poin.
Emas dan Perak Melonjak sebagai Safe Haven
Di tengah gejolak geopolitik yang meningkat, emas spot menguat sekitar 1% pada awal sesi Asia tanggal 3 Maret, diperdagangkan di atas $5.360 per ons troy. Kontrak emas Comex mencatat kenaikan hingga $5.376,60 per ons (+1,04%). Permintaan terhadap logam mulia sebagai aset lindung nilai melonjak seiring investor memburu instrumen safe haven di tengah ketidakpastian yang tinggi.
Reli harga emas sebenarnya sudah berlangsung lebih awal. Ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan pengiriman “armada besar-besaran” menuju Iran pada akhir Januari 2026, harga emas sempat menembus puncak di atas $5.500 per ons. Kini, seiring konflik yang semakin nyata dan meluas, emas terus mendapat dukungan kuat dari permintaan safe haven global.
Perak turut mencatat kenaikan signifikan. Logam abu-abu ini sempat menyentuh level tertinggi intraday di $96,40 per ons pada 2 Maret sebelum terkoreksi ke kisaran $85 akibat resistensi dari penguatan dolar AS. Indeks dolar (DXY) menguat ke 98,73—level tertinggi dalam lima minggu—naik sekitar 2% dari sesi sebelumnya, seiring dolar mengambil peran sebagai safe haven currency di tengah eskalasi konflik.
Untuk jangka pendek satu hingga tiga bulan ke depan, harga emas diproyeksikan bergerak dalam rentang $5.200–$5.800 per ons dengan volatilitas tinggi. Apabila konflik berkepanjangan, emas berpotensi menembus level $6.200–$6.500 per ons, sementara perak bisa menyentuh kisaran $100–$105 per ons. Di sisi mata uang, Rupiah terus melemah ke Rp 16.850 per dolar AS—kombinasi dari sentimen risk-off global, kenaikan harga minyak, dan penguatan dolar—dengan risiko pelemahan lebih lanjut menuju Rp 16.950 jika konflik tidak mereda.