Eskalasi konflik AS-Israel-Iran memacu lonjakan indeks dolar ke tertinggi lima minggu, menekan mata uang emerging market dan memukul bursa saham Asia, sementara aset safe-haven seperti emas dan yen melonjak tajam.
Ditulis berdasarkan analisis dan ditinjau oleh : Iswardi Lingga, CSA, CRP, CTAD
Dolar Capai Level Tertinggi Lima Minggu
Indeks dolar AS (DXY) melanjutkan reli untuk hari ketiga berturut-turut, naik ke level 98,73 — tertinggi dalam lima minggu — setelah melonjak 2% dari sesi sebelumnya. Pada pagi hari yang sama, DXY sempat menyentuh 99,10 di awal sesi Asia. Penguatan ini mencerminkan permintaan besar-besaran terhadap greenback sebagai pelabuhan aman (safe-haven currency) di tengah eskalasi militer yang berlangsung sejak 28 Februari 2026.
Penguatan dolar didorong oleh kombinasi tiga faktor utama: sentimen risk-off global yang melonjak, kenaikan harga minyak yang memperparah tekanan inflasi, serta pergeseran aliran modal ke instrumen denominasi dolar yang dianggap lebih aman. Dalam jangka pendek, dolar diperkirakan masih akan menguat 2–5% terhadap sebagian besar mata uang dunia, meski target jangka panjang DXY berada di kisaran 96,20.
Yen dan Franc Swiss: Safe-Haven di Tengah Badai Geopolitik
Tidak hanya dolar yang diuntungkan. Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF) turut mencatat penguatan sebagai sesama safe-haven currency tradisional. Kedua mata uang ini secara historis menjadi tujuan pelarian modal saat tensi geopolitik memanas, dan pola yang sama kembali terulang dalam konflik yang menyeret AS, Israel, dan Iran kali ini.
Pergerakan JPY dan CHF mengonfirmasi bahwa pasar sedang masuk ke mode defensif penuh — bukan sekadar rotasi sektor, melainkan pengalihan portofolio secara menyeluruh menjauh dari aset berisiko ke instrumen yang dianggap paling tahan terhadap guncangan eksternal.
Emerging Market Tertekan: Rupiah Mendekati Rp 16.950
Di sisi lain, tekanan terberat justru dirasakan oleh mata uang negara-negara berkembang (emerging markets). Rupiah melemah ke level Rp 16.850 per dolar AS pada sore 3 Maret 2026 — dan berpotensi terus merosot menuju Rp 16.950 apabila konflik berkepanjangan.
Pelemahan rupiah merupakan resultante dari tiga tekanan simultan: sentimen risk-off global yang memicu capital outflow dari aset emerging market, kenaikan harga minyak yang memperburuk neraca perdagangan Indonesia sebagai negara net importir minyak, serta penguatan dolar AS yang secara mekanis menekan nilai tukar mitra dagang utamanya.
IHSG dan Indeks Global: Tekanan Berlanjut di Hari Kedua
Pasar saham global kompak melemah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penurunan hari kedua, bergerak di kisaran 7.939–7.955 pada penutupan 3 Maret 2026, setelah sebelumnya ditutup melemah 2,66% ke 8.016 poin pada 2 Maret. Di awal sesi perdagangan sempat terjadi rebound singkat sebelum tekanan jual kembali menguasai pasar.
Indeks Asia juga terpukul. Hang Seng Hong Kong terkoreksi 2,1%, sementara Nikkei 225 Tokyo turun 1,4%. Dari Wall Street, futures saham AS pagi hari menunjukkan tekanan lanjutan dengan S&P 500 turun 0,2%, Nasdaq terkoreksi 0,3%, dan Dow Jones jatuh 351 poin. Pada penutupan sebelumnya, bursa AS berakhir variatif tipis: Dow -0,15%, S&P 500 +0,04%, dan Nasdaq -0,10% — mencerminkan ketidakpastian yang belum terselesaikan.
Sektor Pemenang dan Pecundang di Tengah Krisis
Konflik geopolitik berskala besar selalu menciptakan pemenang dan pecundang di pasar saham, dan episode kali ini tidak berbeda. Dengan harga minyak WTI kembali diperdagangkan di kisaran $75 per barel — dan berpotensi mencapai $80–85 jika konflik terkendali, bahkan $100–150 dalam skenario gangguan pasokan berkepanjangan — sektor energi menjadi yang paling diuntungkan. Perusahaan minyak dan gas mencatat kenaikan harga saham seiring lonjakan harga komoditas. Sektor pertahanan turut mendapat dorongan dari eskalasi konflik, sementara produsen emas dan perak menguat seiring reli logam mulia yang membawa emas spot ke atas $5.360 per ons.
Sebaliknya, sektor yang berorientasi pada pertumbuhan dan konsumsi menanggung beban terbesar. Penerbangan dan pariwisata tertekan akibat kekhawatiran gangguan jalur udara dan perjalanan global. Perbankan dan keuangan terseret sentimen risk-off yang menekan valuasi. Sektor teknologi — dengan valuasi yang sudah tinggi — rentan terhadap aksi ambil untung (profit-taking), sementara konsumer diskresioner menghadapi ancaman penurunan daya beli akibat kenaikan inflasi energi.
Dengan konflik yang diperkirakan masih berlanjut hingga April 2026, volatilitas di pasar keuangan global kemungkinan besar belum mencapai puncaknya. Selat Hormuz — yang menjadi jalur sekitar 20 juta barel minyak per hari atau sekitar 20% konsumsi global — kini resmi ditutup Iran, sebuah perkembangan yang berpotensi mengubah peta pasar energi secara fundamental dalam beberapa pekan ke depan.
— Valbury Market Analysis, 3 Maret 2026