Ditulis berdasarkan analisis dan ditinjau oleh : Iswardi Lingga, CSA, CRP, CTAD
Awal 2026 mestinya menjadi musim panen bagi para pembuat kebijakan moneter global. Setelah dua tahun berjuang melawan inflasi pasca-pandemi, sebagian besar bank sentral utama dunia sudah bersiap memangkas suku bunga dan memberi napas lebih bagi pertumbuhan ekonomi. Rencana itu kini terhenti total — dan digantikan oleh satu skenario yang lebih berbahaya dari sekadar inflasi tinggi: stagflasi.
Ketika harga minyak melonjak +75,6% dalam satu kuartal akibat blokade Selat Hormuz pasca Operasi Epic Fury, hampir seluruh bank sentral utama dunia memilih satu respons yang sama — diam. Tidak memangkas, tidak menaikkan. Menahan, sambil mengamati apakah guncangan energi ini bersifat sementara atau akan menetap cukup lama untuk memaksa langkah yang lebih keras.
The Fed: Dari ‘Tiga Pemangkasan’ ke ‘Mungkin Nol’
Tidak ada institusi yang mencerminkan pergeseran narasi ini lebih jelas dari Federal Reserve.
Memasuki 2026, pasar futures memperkirakan Fed akan memangkas suku bunga setidaknya dua hingga tiga kali sepanjang tahun. Dot plot Desember 2025 pun mendukung proyeksi tersebut. Namun Q1 2026 mengubah segalanya secara sistematis.
Fed mempertahankan suku bunga di 3,50–3,75% di kedua pertemuan FOMC kuartal pertama — 28 Januari dengan suara 10-2, dan 18 Maret dengan suara bulat. Dot plot Maret yang diperbarui memproyeksikan hanya satu pemangkasan sepanjang 2026. Yang lebih mencolok: tujuh dari 19 anggota FOMC kini memperkirakan tidak ada pemangkasan sama sekali untuk seluruh tahun ini.
Data yang melatarbelakangi keputusan itu berbicara sendiri. Core PCE — ukuran inflasi yang paling diperhatikan Fed — tercatat 3,1% secara tahunan pada Januari 2026, jauh di atas target 2%. Proyeksi inflasi PCE untuk keseluruhan 2026 dinaikkan ke 2,7% dari sebelumnya 2,4%, seluruhnya mencerminkan tekanan harga energi yang belum reda.
Di sisi pertumbuhan, datanya tidak lebih menggembirakan. GDP AS kuartal keempat 2025 hanya tumbuh 0,7% — melambat signifikan. NFP Februari mengejutkan pasar dengan angka -92.000 — jauh di bawah ekspektasi konsensus +50.000. Sektor manufaktur memang mencatat ekspansi pertama dalam 12 bulan dengan ISM 52,6 di Januari, namun sinyal itu tertutupi oleh kelemahan di sektor lain.
Hasilnya adalah kondisi yang paling tidak diinginkan pembuat kebijakan: ekonomi yang melambat di satu sisi, inflasi yang belum jinak di sisi lain. Jerome Powell sendiri mengakui bahwa Fed kini berada dalam mode wait-and-see — terminologi yang jarang digunakan secara terang-terangan, dan yang paling tepat menggambarkan kebuntuan kebijakan yang sedang terjadi.
Bank Sentral Global: Kompak Menahan, dengan Dua Pengecualian
Tema yang sama berulang di hampir seluruh bank sentral utama dunia sepanjang Q1 2026.
ECB mempertahankan suku bunga deposit di 2,00% di kedua pertemuannya — 5 Februari dan 19 Maret — sambil merevisi naik proyeksi inflasi 2026 dari 1,9% ke 2,6%. Pasar bahkan mulai mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga ECB, dengan probabilitas mencapai 84%. Bank of England mempertahankan suku bunga di 3,75% dengan voting bulat 9-0 pada 18 Maret — lebih hawkish dari ekspektasi pasar — di tengah PDB UK yang hanya tumbuh 0,1% di kuartal keempat 2025. BOJ Jepang bertahan di 0,75%, sementara SNB Swiss memilih nol persen sambil mempersiapkan sinyal intervensi valas.
Hanya dua bank sentral yang bergerak. Reserve Bank of Australia menaikkan suku bunga 25 basis poin ke 3,85% — satu-satunya bank sentral G10 yang memperketat kebijakan di Q1. Di kutub berlawanan, PBOC China memangkas suku bunga 25 basis poin di Januari sebagai bagian dari stimulus fiskal terbesar dalam sejarahnya.
Seluruh bank sentral lainnya: diam.
Bank Indonesia: Pergeseran Sinyal yang Paling Signifikan
Di antara semua bank sentral, pergeseran sikap Bank Indonesia di Q1 2026 layak mendapat perhatian tersendiri — bukan karena besarnya perubahan suku bunga, melainkan karena tajamnya perubahan nada komunikasi.
BI mempertahankan BI-Rate di 4,75% di ketiga pertemuan Q1. Itu bukan hal mengejutkan. Yang mengejutkan adalah apa yang disampaikan — atau tepatnya dihapus — pada pertemuan Maret: panduan pemangkasan suku bunga ke depan (forward guidance) yang sebelumnya selalu ada dalam komunikasi BI kini tidak lagi tercantum. Penghapusan itu adalah sinyal hawkish paling eksplisit yang bisa disampaikan bank sentral tanpa secara langsung menaikkan suku bunga.
Latar belakangnya jelas. Inflasi tahunan Indonesia melonjak ke 4,76% pada Februari 2026 — tertinggi sejak Maret 2023 — melampaui batas atas target BI di 3,5%. Rupiah mencapai puncak tekanan di Rp17.047 per dolar AS pada 19 Maret, terdorong oleh kombinasi penguatan DXY ke atas 100 dan beban impor energi yang semakin berat sebagai net importir minyak. BI mengintervensi aktif di pasar spot, DNDF, dan pasar SBN sekunder untuk meredam volatilitas yang berlebihan.
Prioritas BI untuk Q2 2026 terbaca jelas: stabilitas rupiah di atas segalanya, termasuk di atas pertumbuhan. Suku bunga kemungkinan bertahan di 4,75%, atau bahkan dinaikkan jika rupiah kembali melemah signifikan, dengan proyeksi USD/IDR bergerak di kisaran Rp16.800–17.200.
Anatomi Ancaman Stagflasi
Yang membuat kondisi Q2 2026 lebih pelik dari krisis inflasi biasa adalah kombinasi dua tekanan yang bergerak ke arah berlawanan secara bersamaan.
Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi global melambat. AS mencatat GDP +0,7% di Q4 2025. Pasar tenaga kerja AS mengirim sinyal kontradiktif — NFP Januari positif di +126.000 namun NFP Februari negatif -92.000. Zona euro nyaris stagnan dengan PDB UK tumbuh 0,1%. Perlambatan ini dalam kondisi normal seharusnya mendorong bank sentral memangkas suku bunga.
Di sisi lain, inflasi kembali naik — dan bukan karena permintaan domestik yang panas, melainkan karena guncangan pasokan energi dari blokade Selat Hormuz. Inflasi yang dipicu guncangan pasokan adalah yang paling sulit ditangani bank sentral: memangkas suku bunga akan memperburuk inflasi, menaikkan suku bunga akan memperburuk pertumbuhan. Hasilnya adalah kelumpuhan kebijakan — dan itulah persisnya yang terjadi di Q1 2026.
Risiko stagflasi kini menjadi skenario yang diperhitungkan serius oleh hampir semua bank sentral utama memasuki Q2.
Matriks Risiko Q2: Empat Skenario, Satu Variabel
Seluruh proyeksi untuk Q2 2026 bermuara pada satu variabel tunggal: nasib Selat Hormuz.
Dalam skenario dasar — de-eskalasi parsial konflik Iran dengan probabilitas 45% — minyak diproyeksikan bertahan di kisaran $85–100 per barel, DXY bergerak di 98–101, dan emas berada di kisaran $4.500–5.000. Kondisi ini memungkinkan bank sentral tetap menahan suku bunga tanpa tekanan lebih lanjut, namun juga tidak memberi ruang untuk memangkas.
Skenario bullish — resolusi konflik cepat dengan probabilitas 20% — membuka kemungkinan minyak kembali ke $60–70 dan memicu risk-on rally di pasar berkembang, termasuk pemulihan mata uang EM. Dalam kondisi ini, bank sentral bisa kembali mempertimbangkan pemangkasan suku bunga di semester kedua 2026.
Skenario bearish — eskalasi konflik yang lebih luas dengan probabilitas 25% — memproyeksikan minyak menembus $120–150, VIX di atas 35, dan potensi krisis pasar berkembang secara luas. Dalam skenario ini, stagflasi bukan lagi risiko — melainkan kenyataan. Beberapa bank sentral bahkan berpotensi terpaksa menaikkan suku bunga di tengah perlambatan pertumbuhan untuk membendung inflasi energi yang tidak terkendali.
Skenario keempat — stagflasi dengan harga energi yang persisten, probabilitas 10% — adalah yang paling destruktif: Fed menahan atau bahkan menaikkan suku bunga, ekonomi AS masuk resesi, dan IHSG berpotensi tertekan ke bawah 6.500.
Dua pertemuan penting yang akan menentukan arah kebijakan Q2: FOMC pada 6–7 Mei 2026 dan pertemuan BOJ pada April, di mana pasar memproyeksikan kemungkinan kenaikan suku bunga Jepang ke 1,00%. Mei juga menandai berakhirnya masa jabatan Jerome Powell sebagai Ketua Fed — dengan Kevin Warsh sebagai kandidat penggantinya, sosok yang dikenal jauh lebih hawkish.
Market Insight
Q1 2026 menutup salah satu babak paling kompleks dalam sejarah kebijakan moneter global: saat hampir seluruh bank sentral utama dunia memasuki tahun dengan rencana pelonggaran, mereka keluar dari kuartal pertama tanpa satu pemangkasan pun — dan dengan kekhawatiran yang justru bergeser ke arah pengetatan.
Bagi pelaku pasar, ada satu takeaway yang perlu digarisbawahi: dalam lingkungan stagflasi, tidak ada kelas aset yang aman secara otomatis. Obligasi tidak menarik karena yields yang tetap tinggi; saham growth tertekan oleh biaya modal yang tidak turun; saham value tertekan oleh perlambatan konsumsi; mata uang pasar berkembang rentan terhadap outflow. Yang justru outperform di Q1 2026 adalah sektor energi (+34% di pasar AS) dan emas — dua aset yang secara historis berfungsi sebagai pelindung nilai terhadap inflasi pasokan.
Memasuki Q2, pertanyaan bukan lagi apakah stagflasi akan terjadi — tapi seberapa dalam dan seberapa lama. Jawabannya bergantung hampir sepenuhnya pada satu selat sempit di Teluk Persia yang kini menentukan arah kebijakan moneter seluruh dunia.
Laporan ini disusun untuk tujuan informasi dan analisis semata. Tidak dimaksudkan sebagai saran investasi. Kinerja masa lalu bukan jaminan hasil masa depan. — Valbury Research, 1 April 2026