Ditulis berdasarkan analisis dan ditinjau oleh : Iswardi Lingga, CSA, CRP, CTAD
Kuartal pertama 2026 menorehkan babak paling dramatis dalam sejarah pasar logam mulia dalam beberapa dekade terakhir. Emas mencatat rekor tertinggi sepanjang masa, perak mengalami kenaikan parabolik yang belum pernah terjadi sebelumnya — lalu keduanya rontok dalam tempo yang sama cepatnya. Dua komoditas yang selama ini dipandang sebagai penyimpan nilai justru menjadi pusat volatilitas paling ekstrem di seluruh kelas aset global.
Januari: Euforia yang Memecah Semua Rekor
Emas memulai tahun di $4.384 per troy ounce pada 2 Januari dan bergerak naik tanpa henti sepanjang bulan pertama 2026. Tiga faktor besar menopang reli ini secara bersamaan: permintaan safe-haven yang mengalir masif dari investor global, pembelian bank sentral yang tak berhenti — People’s Bank of China menambah 25 ton di bulan Februari, menandai bulan ke-16 akuisisi berturut-turut — serta arus masuk ke ETF emas yang mencapai $5,3 miliar hanya dalam Februari, menjadi kenaikan bulanan kesembilan berturut-turut.
Pada 28 Januari, emas menembus level psikologis $5.000 per troy ounce untuk pertama kalinya dalam sejarah. Momentum tidak berhenti di sana. Harga terus mendaki hingga mencetak rekor sepanjang masa (all-time high) di $5.589,38 — sebuah angka yang satu bulan sebelumnya hampir tidak ada analis yang berani memproyeksikannya.
Perak: Dari $71 ke $121 dalam Sebulan — Lalu Kolaps 30% dalam 30 Jam
Jika emas mencatat rekor dengan cara yang relatif terukur, perak bergerak dengan cara yang jauh lebih liar. Dari harga pembukaan tahun di sekitar $71 per troy ounce, perak melesat secara parabolik ke rekor intraday $121,69 pada 29 Januari — kenaikan 71% hanya dalam satu bulan.
Di balik lonjakan itu ada tiga kondisi struktural yang meledak secara bersamaan. Pertama, backwardation di pasar COMEX — kondisi di mana harga futures diperdagangkan di bawah harga spot, sinyal langsung dari kelangkaan fisik yang parah di pasar. Kedua, investor institusional menarik 25% dari total inventory COMEX dalam waktu singkat, memperparah tekanan pasokan. Ketiga, defisit struktural pasar perak memasuki tahun keenam berturut-turut, dengan proyeksi kekurangan pasokan 67 juta ounce untuk 2026. Rasio emas terhadap perak jatuh ke bawah 50 — level yang tidak terlihat sejak 2012.
Namun pada 29–30 Januari, dalam kurang dari 30 jam setelah mencapai puncaknya, perak anjlok lebih dari 30% dari ATH ke bawah $75. Tidak ada krisis fundamental yang memicu kejatuhan itu — yang terjadi adalah likuidasi masif dari investor yang masuk terlambat dan terjebak di posisi puncak.
Maret: Fenomena Margin Call yang Meruntuhkan Emas
Pemulihan singkat terjadi setelah kepanikan Januari. Perak kembali ke $92,70 pada akhir Februari. Emas pun bertahan di zona $5.000-an, seolah mengkonsolidasi kenaikannya.
Kemudian datanglah Maret — dan segalanya berubah dengan cara yang tidak banyak investor antisipasi.
Operasi Epic Fury pada 28 Februari, serangan militer AS-Israel terhadap Iran yang memicu penutupan Selat Hormuz, membuat pasar saham global masuk zona merah dalam. Investor yang menanggung kerugian besar di portofolio ekuitas mereka menghadapi satu pilihan mendesak: menjual aset yang masih menguntungkan untuk menutupi margin call. Emas, yang berada dalam posisi untung signifikan bagi sebagian besar investor, menjadi korban likuidasi paksa.
Hasilnya: emas jatuh dari zona $5.000 ke $4.100 pada 23 Maret — penurunan mingguan terbesar dalam 40 tahun terakhir. Perak mengikuti, mencatat intraday low $61,05 pada tanggal yang sama.
Pemulihan parsial terjadi setelah Trump mengajukan rencana perdamaian 15 poin pada 25 Maret. Emas menutup kuartal pertama di $4.675, mencatat kenaikan kuartalan +6,6% meski telah melewati dua ayunan ekstrem yang berlawanan arah. Perak menutup Q1 di sekitar $73, naik sekitar +3% secara kuartalan.
Proyeksi Q2: Goldman Sachs Tetap di $5.000
Di tengah volatilitas yang belum mereda, Goldman Sachs mempertahankan target $5.000 per troy ounce untuk emas pada pertengahan 2026. ING menetapkan target rata-rata lebih tinggi di $5.190. Sebanyak 68% bank sentral global menyatakan rencana untuk meningkatkan kepemilikan emas ke depannya — fondasi permintaan struktural yang memperkuat tesis bullish jangka panjang.
Untuk perak, JP Morgan memproyeksikan rata-rata $81 per troy ounce, sementara UBS menargetkan $85 di akhir 2026. Defisit struktural tahun keenam menjadi landasan utama proyeksi tersebut, meski ada risiko dari tren substitusi perak oleh tembaga di panel surya yang tengah dijalankan produsen-produsen China besar.
Proyeksi keduanya sama-sama dibatasi oleh dua variabel makro yang belum terselesaikan: real yields yang tetap tinggi akibat kebijakan Fed yang hawkish, dan dolar AS yang menguat seiring sentimen safe-haven dari konflik Timur Tengah.
Market Insight
Kuartal pertama 2026 memberikan pelajaran yang jarang terjadi sekaligus jarang disaksikan secara langsung oleh pasar: logam mulia bukan hanya instrumen lindung nilai, melainkan juga wahana spekulasi yang rentan terhadap dinamika likuiditas jangka pendek.
Emas mencatat all-time high $5.589, lalu jatuh hampir 27% dalam hitungan minggu — bukan karena fundamental berubah, melainkan karena investor membutuhkan likuiditas ketika portofolio lain berdarah. Perak naik 71% dalam sebulan lalu kolaps 30% dalam 30 jam — didorong bukan oleh perubahan permintaan industri, melainkan oleh kelangkaan fisik sementara yang dipercepat oleh perilaku institusional.
Bagi pelaku pasar yang menatap Q2 2026, ada dua skenario yang perlu diperhatikan secara bersamaan: jika konflik Iran mereda dan tekanan pada ekuitas berkurang, emas bisa kehilangan sebagian daya tarik safe-haven-nya dan terkoreksi lebih lanjut. Namun jika eskalasi berlanjut dan inflasi energi bertahan di atas target bank sentral global, logam mulia — terutama emas — berpotensi kembali menguji level $5.000 sebagai support baru, bukan resistance.
Satu hal yang pasti: setelah Q1 2026, tidak ada investor yang bisa lagi mengasumsikan bahwa logam mulia bergerak lambat.
Laporan ini disusun untuk tujuan informasi dan analisis semata. Tidak dimaksudkan sebagai saran investasi. Kinerja masa lalu bukan jaminan hasil masa depan. — Valbury Research, 1 April 2026